CITA-CITA
Salah satu hal yang dapat membuat hidup Anda bergairah dan penuh semangat adalah karena Anda mempunyai cita-cita. Akan tetapi cita-cita dan obsesi Anda hanya akan menjadi anga-angan yang kosong jika Anda tidak mau berusaha dan bergerak untuk mencapai cita-cita tersebut. Karena itu cita-cita harus selalu Anda iringi dengan keteguhan hati dan sifat istiqomah serta doa dan tawakal kepada Allah. Jika tidak, maka Anda akan menjadi pribadi yang gagal dalam menapaki hidup. Dan jangan lupa bahwa cita-cita Anda harus bernilai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan demi kebahagiaan orang-orang disekitar Anda. Jangan sampai Anda menjadi pribadi-pribadi yang egois tanpa memikirkan lingkungan di sekitar Anda. Dan jangan pula pernah ragu dalam melangkahkan kaki menuju cita-cita Anda. Ingat pesan bapak ibu guru Anda ketika Anda masih kecil dulu? “Gantungkanlah cita-cita mu setinggi langit.”
Carlyle, seorang motivator Barat, mengatakan, “Orang yang setengah-setengah akan berjalan bolak-balik ke depan dan ke belakang, dan tidak akan pernah melaju walau di jalan yang halus sekalipun. Tetapi, bagi orang bersungguh-sungguh dan kuat tekadnya akan terus maju sekalipun di atas jalan yang paling kasar, dan akan terus melaju mencapai cita-citanya. Seorang tanpa cita-cita ibarat kapal baling-baling – hampa, tersesat, dan tidak berarti. Milikilah cita-cita dalam hidup. Setelah itu, curahkanlah kekuatan dan pikiran Anda sepenuhnya dalam upaya Anda, seperti yang telah dikaruniakan Allah kepada Anda.
Bersungguh-sungguhlah Anda dalam mencapai cita-cita Anda. Jangan sampai Anda berpangku tangan menunggu uluran tangan Allah untuk menolong Anda menjadi pribadi yang sukses dan baik. Karena jika Anda orang yang bersemangat dalam hidup Anda, Anda pasti akan mengambil setiap kesempatan yang ada dan menggunakan kesempatan tersebut untuk mendekati cita-cita Anda. Dan ingat! Jangan sampai Anda disibukkan dengan mencari-cari peluang atau kesempatan. Bukannya mencari peluang atau kesempatan itu tidak penting, melainkan masih ada yang lebih penting dari itu, yaitu menyiapkan dan meningkatkan kompetensi Anda dalam bidang yang Anda tekuni demi meraih cita-cita Anda. Jika Anda disibukkan dengan mencari peluang sementara ketika peluang itu datang sedangkan diri Anda belum siap berkompetisi dengan pasaing-pesaing Anda dalam meraih cita-cita Anda, apa yang akan terjadi? Tentunya lebih besar kegagalan yang akan Anda dapatkan dari keberhasilan.
Satu misal ketika Anda terlalu sibuk mencari informasi mencari peluang untuk mendapatkan beasiswa kuliah, karena hal itu menjadi cita-cita dalam hidup Anda, sedangkan Anda tidak siap dalam mengikuti tes seleksi karena Anda tidak pernah belajar. Kemungkinan besar Anda akan gagal menjadi salah satu mahasiswa yang kuliah gratis dengan uang saku sebagai tujungan hidup selama kuliah, karena pasaing-pesaing Anda lebih siap dan berkopetensi dibandingkan diri Anda. Untuk itu persiapkan diri Anda untuk menjadi pribadi-pribadi yang mempunyai kemampuan unggul, sehingga ketika sewaktu-waktu datang kesempatan, Andapun akan siap bersaing. Dan kemungkinan besar Andapun akan berhasil menjadi pemenangnya.
Dalam bukunya I Will, Ben Swettland menuliskan, “Bayangkan diri Anda seperti yang Anda inginkan. Yakinlah bahwa Anda dapat mencapainya, dengan semangat ‘saya pasti bisa’. Buatlah asumsi dasar yang masih perlu direalisasikan dan ambillah langkah-langkah yang perlu untuk mewujudkan rencana Anda.” Percaya atau tidak, impian yang terus-menerus dihidupi akan menjadi kenyataan. Impian atau cita-cita itu ibarat tanaman. Tanaman itu akan mampu tumbuh dengan subur dan berbuah dengan baik jika Anda rajin menyirami dan merawatnya dengan rutin dan baik setiap hari. Demikian juga cita-cita Anda. Istiqomahlah Anda dalam merawat semangat diri untuk dapat mencapai cita-cita Anda.
Mack R. Douglas menganggap cita-cita adalah perlengkapan Anda menjadi sukses. Cita-cita adalah motivasi, penyemangat, dan pendorong hidup Anda untuk menjadi lebih baik. Dan tentunya Anda harus bisa mengendalikan cita-cita Anda dengan baik. Jangan sampai karena Anda terlalu bersemangat dalam menggapai cita-cita Anda, akhirnya Anda menempuh jalan yang berlawanan dengan nilai-nilai kehidupan. Sastrawan Prancic, Albert Camus mengilustrasikan bahwa seseorang yang tidak bisa mengendalikan hidupnya itu misalkan akan mengalami kasus seperti kisah seorang pemuda berikut. Ada seorang pemuda yang meninggalkan rumahnya selama 25 tahun. Di menikah, menjadi kaya, dan memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya untuk mengunjungi keluarganya. Dia datang tanpa pemberitahuan, dan tiba di rumah penginapan yang dikelola orangtuanya. Namun, orangtuanya sama sekali tidak mengenalinya lagi.
Dengan maksud selalu membuat lelucon, dia tetap tidak menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Saat malam telah larut, dan waktunya untuk beristirahat, dia tetap berlagak sebagai pengunjung biasa. Namun pada malam itu, orangtuanya merampok pemuda tersebut, dan membunuhnya dengan sadis serta membuang jasadnya ke sungai. Dan ternyata orangtuanya itu selama bertahun-tahun telah terbiasa membunuh tamu-tamu pengunjung hotel. Bagi orangtuanya, seorang pemuda tadi yang tidak lain adalah anaknya sendiri dianggap sama dengan tamu-tamu hotel yang lainnya. Ketika istri pemuda itu datang ke penginapan tersebut dengan maksud mencari suaminya, dia menceritakan keadaan yang sebenarnya. Selanjutnya keduaorangtuanya tersebut tersentak kaget dan sangat menyesali perbuatannya, kemudian mereka semua melakukan bunuh diri.
****
Tidak dapat disangkal jika sebuah cita-cita telah tercapai, maka kebanyakan orang akan mengharap pengakuan dan penghargaan dari orang lain. Padahal, kalau Anda tulus atas cita-cita Anda, maka Anda sendiri yang akan terhormat. Allah akan memberikan kesempurnaan lahir dan batin kepada Anda. Karena semua itu atas kehendak dan ijin Allah semata. Maka sesungguhnya hal yang seperti itu tidak diperlukan. Jangan ingin dipuji dan diistimewakan, tetapi perbanyaklah bersyukur kepada Allah. Bertrand Russell mengatakan bahwa orang yang hidup dengan tulus, jujur, dan mulia, meskipun hidupnya tersembunyi, maka ia tidak perlu khawatir hidupnya akan sia-sia. Seberkas sinar akan memancar dalam hidupnya. Sinar yang akan menunjukkan jalan lurus bagi sesamanya, teman-temannya, mungkin dalam waktu yang panjang dimasa yang akan datang. Kebaikan itu akan tetap bersinar di manapun ia berada. Dan ia yakin bahwa kesempurnaan Allah senantiasa bersamanya.
Menikmati perjalanan menuju cita-cita haruslah benar-benar dilakukan. Karena tidak mustahil, saat Anda mendapatkan duri-duri dalam meraih cita-cita, Anda bisa berhenti disitu, meringis, dan tak kuat lagi untuk melangkah. Orang yang teguh dalam meraih cita-citanya akan kuat atas rintangan-rintangan yang tengah menghadangnya. Ia tidak akan terjun dari jembatan panjang. Ia juga tidak akan pasrah pada keadaan jika belum sampai tujuan cita-citanya.
Ada seorang suami yang kehilangan uang jutaan rupiah. Dan, dia menyadari bahwa kehilangan uang hanyalah halangan sementara menuju sukses. Padahal, waktu itu adalah waktu-waktu krisis di negerinya. Ia lalu bicara pada istrinya dan berkata, “Sayang, hari ini kita telah merugi jutaan rupiah.” Bayangkanlah betapa banyak orang akan kaget jika kehilangan seluruh milik mereka. Namun, ternyata si istri mempunyai keteguhan hati yang mendalam. Dia tersenyum pada sang suami dan berkata, “Janganlah bersedih, sayang. Semua itu hanyalah uang.” Itulah kali terakhir mereka membicarakan masalah tersebut. Merekapun bersinergi kembali menjalani hari-harinya menuju kesuksesan.
Bahan bakar atau bekal dalam meraih cita-cita adalah energi, yaitu energi untuk menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki. Bahkan, energilah yang dapat menentukan kuat tidaknya seseorang melangkah menuju kesuksesan. Sir Thomas Buxton mengatakan, “Semakin lama saya hidup, semakin saya yakin bahwa perbedaan besar antara manusia, antara yang lemah dan yang kuat, yang besar dan yang tidak berarti, itu terletak pada energinya. Yakni, suatu ketegaran cita-cita yang pantang mundur, sekali ditetapkan lalu menang dan mati. Kualaitas ini akan mampu mengerjakan apa saja yang dapat dikerjakan didunia ini. Tanpa hal itu musatahil bahwa keadaan, bakat, dan kesempatan apa pun juga mampu menjadikan makhluk berkaki dua ini manusia.”
Sebuah buku berjudul The Power Within You yang ditulis oleh Claude M. Bristol dan Harold Sherman, mengutip pepatah kuno yang berbunyi, “Lihatlah ke dalam. Di dalam ada mata air kebaikan. Biarkan dia menggelegak ke permukaan bila Anda gali.” Sekarang, ketika Anda berfikir dalam gambaran pikiran, bayangkanlah diri Anda menjadi apa yang Anda mau, menyelesaikan hal-hal yang Anda inginkan dan mampu mencapai cita-cita yang telah Anda tetapkan sendiri. Anda pasti akan melihat gambaran paling luar biasa yang pernah Anda bayangkan. Dari sana, Anda akan mendapatkan kekuatan, pengetahuan, dan tenaga untuk menyelesaikannya. Karena Anda telah membayangkan hal itu sebagai gambaran yang hidup, maka secara tidak langsung gambaran yang dirasakan itu berubah menjadi sebuah bahan bakar yang mampu menggerakkan Anda menuju cita-cita Anda.
Gambaran ini akan terpola dalam benak Anda. Seperti sebuah TV dalam pikiran Anda. Anda akan lihat diri Anda mampu mencapai apa yang Anda inginkan. Pada saat Anda menetapkan cita-cita yang dinamis dan mulai berjuang mencapai cita-cita yang luhur dan menantang, itu berarti bahwa saat itu juga Anda sukses. Karena, sering kali upaya untuk mencapai, meyelesaikan, mewujudkan, dan perjalanan menuju cita-cita itu sendiri lebih besar maknanya daripada tercapainya cita-cita.
Indikasinya, Anda akan menjadi orang yang paling dinamis, pantang mundur, dan tidak ada yang mampu menghentikan Anda. Marka R. Douglas dalam bukunya How to Make a Habit of Secceeding mengatakan bahwa kebajikan memerlukan usaha. Manakala Tuhan menginginkan bunga karang dan tiram-tiram, maka Allah menciptakan mereka dan menaruh yang satu di lumpur dan yang lain di batu. Ketika Allah menciptakan manusia, Allah tidak menjadikannya seperti bunga karang dan tiram. Dia menciptakannya dengan dua kaki dan tangan, kepala dan hati, darah yang menghidupkan, juga tempat untuk menggunakan semua itu, dan Dia berkata kepada makhluk ciptaan-Nya itu, “Pergilah Bekerja! Dan Tawakallah Kepada-Ku.” (Di edit dan dikembangkan dari buku berjudul “Cita-Cita, The Secret And Power Within” karya; M. Iqbal Dawani; DIVA Press;2009)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar