Dzikir merupakan sebuah kewajiban bagi seluruh makhluk
Allah. Tanaman, tumbuhan, dan seluruh benda-benda yang ada di langit dan
dibumi, semuanya berzikir mensucikan Allah sesuai dengan caranya masing-masing.
Begitu pula kita sebagai manusia. Sebagai makhluk yang paling sempurna diantara
makhluk yang lain, tentunya tugas kita lebih berat lagi. Kita harus memikul
amanah yang berat sebagai seorang wakil Tuhan di muka bumi ini. Tapi sayang,
kita banyak lalai dan terlena oleh keindahan dunia yang sesaat ini.
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah,
dengan meningat sebanyak-banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi
dan petang.” (Q.S. Al-Ahzab: 41-42).
Berdzikirlah dengan sebanyak-banyaknya, 100 kali, 1.000
kali, 10.000 kali, 100.000 kali, 1 juta, dan bahkan sebanyak-banyaknya. Tauladan
kita adalah Rasulullah saw. Belia adalah ahli dzikir, nominal-nominal dzikir
semuanya sudah disebutkan dalam beberapa hadits, namun yang perlu jadi catatan
kita adalah, beliau merupakan Nabi dan Rasul, manusia suci yang terbebas dari
dosa dan kesalahan. Sedangkan kita?
Maka dari itu berdzikirlah dengan dzikir
sebanyak-banyaknya. Latihalah diri ini dengan menghitungi nominal jumlah
dzikir, misalnya setiap selesai shalat membaca istighfar 1000 kali, tasbih tahmid
takbir masing-masing 1000 kali, dan kalimat laa illa ha illalaha 1000
kali. Semuanya adalah bentuk dari proses pembelajaran. Ingat bahwa sifat diri
kita adalah pemalas dan sering lalai, maka dengan belajar berdzikir dengan cara
menghitungi ini adalah bagian dari proses untuk membiasakan diri untuk
istiqamah dalam berdzikir.
Jika memang kebiasaan berzikir sudah melekat dalam diri,
maka kita akan menjadi ahli dzikir, kerja, terjaga ataupun tidur, dan segala
aktivitas apapun, semuanya tidak lepas dari berzikir. Nafas kita penuh dengan
dzikir kepada Allah.
Banyak dikalangan kita meragukan bahwa proses
pembelajaran yang sifatnya mentarbiyah diri ini adalah salah, padahal nafsu dan
lintasan-lintasan hati ini begitu rumit. Ibadah batin menjadi sebuah pekerjaan
dan tugas yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Ibadah batin tidak sama dengan
ibadah lahir yang terletak pada tatanan syarat dan rukun sehingga menjadi sah,
namun lebih dari itu semua.
Gerak yang salah dan buruk sedikit saja di dalam hati,
maka itu bisa menghapuskan segala bentuk amal ibadah kita sekian puluh tahun.
Bahkan amal ibadah kita selama ini akan menjadi kurang untuk menebus kesalahan
batin yang telah dilakukan. Maka dari itu sahabat, marilah menata dan mulai
mengawasi aktifitas batin ini dengan baik. salah satunya adalah dengan cara
membiasakan diri dengan berdzikir sebanyak-banyaknya. Sehingga dengan demikian
kita akan tahu dengan sebenar-benarnya tentang hakikat diri kita dan juga Allah
secara hakiki. Dari situ mulailah bisa kita pahami bahwa Allah adalah Tuhang
Yang Maha Esa.
Huwa Allahu A’lamun bi Shawabi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar